Arah kiblat sejumlah masjid di Indonesia mengalami pergeseran.
Menurut Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementeriaan Agama, Rohadi Abdul Fatah, sekitar 20 persen masjid dari 763 ribu masjid di Indonesia tidak mengarah kiblat.
Perubahan arah tersebut terjadi akibat gempa bumi sehingga menimbulkan pergeseran tanah.
“Paling yang melenceng 20 persen,” kata Rohadi, seperti dimuat laman Kementerian Agama.
Rohadi membantah pendapat bahwa ada 80 persen masjid di Indonesia dan kuburan muslim yang belum mengarah ke kiblat dengan benar.
Ditambahkan dia, pendapat bahwa yang terjadi pergeseran hanya di masjid-masjid yang berlokasi di daerah gempa seperti Yogyakarta, Tasikmalaya dan Sumatera Barat, ngawur.
Bagaimana menentukan sebuah masjid salah kiblat?
Dijelaskan Rohadi, untuk meluruskan masalah kiblat, Kementerian Agama telah membentuk sebuah tim yang siap turun ke masing-masing daerah untuk mengukur kembali arah kiblat itu.
Tim akan menggunakan peralatan seperti teodolit, JPS dan kompas, serta paling utama pengamatan terhadap matahari.
Masyarakat juga bisa melakukan pengukuran secara mandiri. Waktu pengukuran tertentu, masyarakat bisa melakukannya pada 28 Mei mendatang, pukul 16.18 Waktu Indonesia Barat dan tanggal 16 Juni pukul 16.27 WIB.
Caranya, dengan menancapkan sebilah bambu. “Saat itu posisi matahari persis di atas Ka`bah, maka arah lawan bayangan bambu itu adalah posisi kiblat dari tempat tersebut,” jelas Rohadi.
Apabila memang ternyata bergeser, jelas Rohadi, masjid tak perlu dibongkar. “Diubah shafnya saja, tidak perlu dibongkar,” tambahnya.
Menurut dia, salah kiblat tidak terlalu mempengaruhi makna dan kekhusyukan shalat dari shalat tersebut, karena semua tergantung niat. “Tidak jadi permasalahan, shalatnya sah,” tandas Rohadi.
Sebelumnya, Menteri Agama, Suryadharma Ali mengatakan memang ada kesalahan penntuan kiblat di sejumlah masjid di Indonesia.
Kesalahan kiblat antara lain terjadi pada beberapa masjid di Jawa Tengah yang diketahui salah menetapkan arah kiblatnya. Juga di Jakarta.
“Memang ada beberapa temuan masjid yang salah kiblat, seperti di Jakarta saja ada beberapa masjid milik instansi pemerintah yang juga salah kiblatnya,” tambah dia.
Sekitar 1.000 Masjid di Bekasi Salah Arah Kiblat
Diperkirakan 1.000 lebih masjid, musholah, dan surau di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, salah arah kiblat. Pengurus Nahdatul Ulama (NU) meminta pengurus masjid membenarkan arah kiblat menghadap Ka’bah.
Data Departemen Agama Kabupaten Bekasi pada 2005 lalu, ada 1.027 masjid, 327 musholah, dan 2.559 surau/langgar. Ketua Pimpinan Cabang NU Kabupaten Bekasi Munir Abbas, mengatakan saat membangun tempat shalat itu warga hanya mengarahkan ke barat.
“Asal mengarah ke barat sehingga mayoritas arah kiblatnya serong beberapa sentimeter,” kata Munir, Jumat (28/05/2010). Menurutnya, penetapan arah kiblat itu tidak menggunakan dasar valid dengan cara menyesuaikan arah matahari ketika tepat berada di atas Ka’bah.
Pimpinan Cabang NU Kabupaten Bekasi mengeluarkan himbauan kepada seluruh pengurus masjid, musholah, dan langgar supaya menyeragamkan arah kiblat hari ini, Jumat pukul 16.17 WIB.
Menurut Munir, pada waktu itu matahari berada persis di atas ka’bah merupakan waktu yang tepat mengarah ke kiblat. “Setiap bayangan tegak lurus mengarah ke ka’bah, bayangan itu bisa menjadi patokan,” katanya.
Waktu tepat membetulkan arah kiblat itu merupakan hasil kajian Lajnah Falakiah Pengurus Besar NU yang membidangi hukum shalat. Dalam setahun, peristiwa tersebut hanya terjadi dua kali. Pada 2010 ini, terjadi pada Jumat ini, dan pada 16 Juli nanti pukul 16.26 WIB.
Pengurus Cabang NU Kabupaten Bekasi melakukan perbaikan arah kiblat di masjid Khairul Amal, Buaran, Lambang Sari, Tambun Selatan, sebagai pilot project program penyeragaman arah kiblat.
Kepala Seksi Urusan Agama Islam Departemen Agama Kabupaten Bekasi Edi Suhadi, menyambut baik gagasan PC NU tersebut.
Edi membenarkan ada banyak masjid yang salah arah kiblat, karena pada saat pembangunan warga hanya mengira-ngirah arah kiblat dengan cara menghadap ke barat.
Departemen Agama Bekasi, kata Edi, telah memeriksa arah kiblat 10 masjid dan tidak satupun arahnya tepat. “Semuanya serong beberapa derajat dari arah ka’bah,” katanya.
JAKARTA - Jajaran Kanwil Departemen Agama Jawa Tengah memastikan pemicu salah kiblat puluhan masjid tidak disebabkan pergeseran lempeng bumi akibat gempa bumi yang marak terjadi beberapa waktu lalu.
Penyebab masjid salah kiblat murni karena faktor human error. “Tidak (akibat gempa), tapi karena keterbatasan alat. Dulu kan memakai alat tradisional. Sedangkan sekarang bisa menggunakan satelit. Jadi akurasinya jauh beda,” ujar Ketua Komisi VIII DPR Abdul Kadir Karding kepada okezone di Jakarta, Jumat (15/1/2010).
Karding berani memastikan informasi di atas lantaran baru saja menghubungi petinggi Kanwil Departemen Agama Jawa Tengah. “Sekarang saya lagi di Semarang dan baru saja menghubungi teman-teman Depag,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, hampir seluruh masjid di wilayah Jawa Tengah salah kiblat. Penyimpangan yang terjadi berkisar antara 1-4 derajat. Penyimpangan di atas bila diteruskan akan menghasilkan penyimpangan hingga puluhan bahkan ratusan kilometer dari arah Kakbah di Masjidil Haram.
“Saya harap masyarakat tidak panik, karena ini murni dipicu faktor ketidaktahuan dan ketidaksengajaan. Dalam waktu dekat, kami bersama Departemen Agama akan mencari solusi atas persoalan ini,” tandasnya.
JAKARTA - Jajaran Kanwil Departemen Agama Jawa Tengah memastikan pemicu salah kiblat puluhan masjid tidak disebabkan pergeseran lempeng bumi akibat gempa bumi yang marak terjadi beberapa waktu lalu.
Penyebab masjid salah kiblat murni karena faktor human error. “Tidak (akibat gempa), tapi karena keterbatasan alat. Dulu kan memakai alat tradisional. Sedangkan sekarang bisa menggunakan satelit. Jadi akurasinya jauh beda,” ujar Ketua Komisi VIII DPR Abdul Kadir Karding kepada okezone di Jakarta, Jumat (15/1/2010).
Karding berani memastikan informasi di atas lantaran baru saja menghubungi petinggi Kanwil Departemen Agama Jawa Tengah. “Sekarang saya lagi di Semarang dan baru saja menghubungi teman-teman Depag,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, hampir seluruh masjid di wilayah Jawa Tengah salah kiblat. Penyimpangan yang terjadi berkisar antara 1-4 derajat. Penyimpangan di atas bila diteruskan akan menghasilkan penyimpangan hingga puluhan bahkan ratusan kilometer dari arah Kakbah di Masjidil Haram.
“Saya harap masyarakat tidak panik, karena ini murni dipicu faktor ketidaktahuan dan ketidaksengajaan. Dalam waktu dekat, kami bersama Departemen Agama akan mencari solusi atas persoalan ini,” tandasnya.
Kiblat 1.036 Masjid Diubah
"Perubahan arah kiblat ini kami lakukan secara berangsur-angsur. Dalam setahun, kemungkinan ada seratus masjid yang bisa kita ubah arah kiblatnya, dan kita perkirakan butuh tiga tahun untuk menyelesaikan semua masjid," jelas Kepala Kemenag Kota Medan Abdul Rahim, Kamis (25/11/2010).
Menurut Abdul Rahim, tenaga ahli untuk mengubah arah kiblat masjid ini tidak terlalu banyak di Kota Medan. Mereka hanya memiliki dua orang, yakni Tarso dari Pengadilan Agama dan Muhammad Jain dari Kemenag Kota Medan. Sehingga, perubahan arah kiblat masjid pun hanya bisa dilakukan secara bertahap.
Ditambahkannya, sebenarnya tidak ada pergeseran yang signifikan pada arah kiblat. Hanya saja, jika bumi bergeser, maka arah kiblat pasti juga akan ikut bergeser. Selain itu, pengurus masjid juga terkadang tidak menggunakan tenaga ahli untuk menentukan arah kiblat saat pembangunannya.
"Oleh karena itu, kami lakukan. Apalagi, dengan adanya alat yang canggih bisa langsung mengetahui arah kiblat yang sebenarnya. Walau masyarakat tidak memintanya, kami tetap akan melakukan perubahan arah kiblat tersebut," tambah Abdul Rahim.
Sementara itu, dana yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan arah kiblat ini adalah sebanyak Rp1 juta untuk satu masjid. Jadi, total dana yang dibutuhkan sebanyak Rp1,36 miliar untuk seluruh masjid. Untuk anggaran ini, Wali Kota Medan dan DPRD Medan sudah menyatakan siap membantu dan memfasilitasinya.
JAKARTA- Setelah melakukan pengukuran saat matahari tepat berada di atas Kakbah kemarin, Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU menyatakan tidak ada perubahan arah kiblat.
Kiblat tetap berada pada koordinat 23 derajat dari arah barat alias Barat Laut. “Itu untuk kawasan Jakarta,” ujar Ketua LTM PBNU Mukhlas Syarkun kepada okezone di Jakarta, Sabtu (17/7/2010).
Sementara untuk wilayah di luar Jakarta, sambung dia, ada perbedaan. “Tapi sedikit dan bisa ditoleransi,” tegasnya.
Menurut Mukhlas, keberadaan sejumlah masjid di nusantara dengan kiblat melenceng tidak dipicu karena pergeseran lempeng bumi akibat gempa bumi. Melainkan sudah terjadi kesalahan sejak awal pendirian masjid.
Dia lantas bercerita, pada Kamis kemarin PBNU menggelar seminar tentang arah kiblat dengan mendatangkan ahli geologi, astronomi, dan ahli falaq. Salah satu kesimpulan yang dihasilkan, gempa tidak berdampak signifikan terhadap perubahan arah kiblat. Andaikata lempeng bumi di Tanah Air bergeser 100 kilometer, maka hanya terjadi pergeseran 1 derajat arah kiblat.
“Jadi arah kiblat tetap dan tidak berubah. Kecuali posisi Indonesia bergeser ke Afrika Selatan,” candanya.
Usai melakukan pengukuran dan menetapkan arah kiblat tidak berubah, PBNU akan menggelar sosialisasi ke seluruh takmir masjid se Indonesia. Hal ini untuk menepis adanya keresahan di masyarakat tentang arah kiblat.
“Pengukuran kemarin juga tidak hanya dilakukan di Jakarta, tapi di berbagai wilayah di Indonesia,” pungkasnya.
Kiblat tetap berada pada koordinat 23 derajat dari arah barat alias Barat Laut. “Itu untuk kawasan Jakarta,” ujar Ketua LTM PBNU Mukhlas Syarkun kepada okezone di Jakarta, Sabtu (17/7/2010).
Sementara untuk wilayah di luar Jakarta, sambung dia, ada perbedaan. “Tapi sedikit dan bisa ditoleransi,” tegasnya.
Menurut Mukhlas, keberadaan sejumlah masjid di nusantara dengan kiblat melenceng tidak dipicu karena pergeseran lempeng bumi akibat gempa bumi. Melainkan sudah terjadi kesalahan sejak awal pendirian masjid.
Dia lantas bercerita, pada Kamis kemarin PBNU menggelar seminar tentang arah kiblat dengan mendatangkan ahli geologi, astronomi, dan ahli falaq. Salah satu kesimpulan yang dihasilkan, gempa tidak berdampak signifikan terhadap perubahan arah kiblat. Andaikata lempeng bumi di Tanah Air bergeser 100 kilometer, maka hanya terjadi pergeseran 1 derajat arah kiblat.
“Jadi arah kiblat tetap dan tidak berubah. Kecuali posisi Indonesia bergeser ke Afrika Selatan,” candanya.
Usai melakukan pengukuran dan menetapkan arah kiblat tidak berubah, PBNU akan menggelar sosialisasi ke seluruh takmir masjid se Indonesia. Hal ini untuk menepis adanya keresahan di masyarakat tentang arah kiblat.
“Pengukuran kemarin juga tidak hanya dilakukan di Jakarta, tapi di berbagai wilayah di Indonesia,” pungkasnya.
Bahkan ada sebuah fenomena yang lucu untuk dibahas ketika terjadi perbedaan pendapat tentang arah kiblat yang benar dan tepat, malah terjadi permusuhan yang pendapatnya tidak dipakai malah jadi ndak mau kemasjid lagi karena menurut keyakinannya kiblatnya salah, mudah -mudahan peristiwa ini tidak berlarut dan ada islah, ya ndak para asatidz

0 comments:
Post a Comment